simple thing here…

mencoba berbagi tentang apa yang coba dilihat, dengar, rasakan…

Fase Hidup

Dulu jaman saya masih TK, tak banyak yang saya ingat. Mungkin hanya satu dua bagian yang benar-benar saya ingat. Saya ingat pernah terjatuh dari mobil, saya ingat naik perosotan di sekolah, saya ingat main kejar-kejaran dengan teman-teman, saya ingat menempuh pendidikan Taman Kanak-kanak di salah satu sudut kota Jakarta. Selebihnya saya tak ingat.

Lalu usia SD saya ikut pindah orang tua ke Solo coret. Officially Karanganyar sih, tapi berhubung dan terhubung saya sejak SD sampai SMAnya di Solo, boleh lah ya nyebut Solo. Huehehe,, maksa! Iya emang!

Jaman masa SD, saya ingat bahwa saya tak doyan belajar. Entah kenapa saya tidak suka belajar, tapi saya suka sekolah. Ketemu temen-temen, bisa jajan, bisa lelarian, bisa ngubrul sama bu penjaga kantin, itu beberapa kegiatan menyenangkan dari sekolah. Saya tak punya otak yang moncer macam kakak saya yang selalu juara kelas. Sedangkan saya, hampir tidak pernah menjadi juara kelas. Laporan wali kelas kepada kedua orang tua saat penerimaan rapot, selalu sama yaitu: saya anak yang cerigis, suka mengganggu teman-teman saat jam pelajaran, dan susah disuruh memerhatikan pelajaran. Heu,, pada fase ini bukan sebuah kebanggaan yang saya torehkan, melainkan luka mendalam yang berhasil saya goreskan. Maafkan saya, Mama, Papa.

Beranjak ke masa SMP. Saya ingat, bahwa saya masih tak suka belajar. Bahwa saya anak tomboi, lebih banyak main sama temen-temen cowok daripada cewek. Bahwa saya berhijrah pake kerudung pertama kali kelas 2 SMP, tepatnya 12 April 2003. Banyak diantara temen-temen main bola waktu itu kecewa ngeliat saya berubah penampilan. Saya juga ingat bahwa saya pernah naksir seseorang yang berbanding terbalik dengan saya. Itu cowok yang saya taksir hampir selalu juara paralel, lha saya hampir selalu rangking paling bawah di kelas. Disini saya ingat, bahwa saya ternyata normal, suka lawan jenis meski tomboi. Oiya saya pun ingat bahwa saya pernah dikeluarkan dari kelas, gegara saya tidak memerhatikan pelajaran. Heu,,, maafkan saya, Mama, Papa. Pada fase ini saya tak pernah membuat bangga, selalu membuat kecewa.

Beranjak ke masa SMA. Saya tetap tak suka belajar, tak pernah jadi juara kelas, pelanggan setia ruangan remidiasi. Kalau dipajang daftar nama yang musti ikut remidial, nama saya pasti ada. Kalau seminggu ada 5 remidiasi, saya ikut 3 diantaranya. Saya ingat bahwa saya rajin ikut kegiatan kerohanian islam, tapi saya rajin juga sowan ke ruang BK. Mungkin beberapa teman Rohis ada yang kurang sreg dengan jalan pilihan saya. Soalnya anak Rohis itu biasanya alim & pinter, sedangkan saya kebalikannya, hihi.. Saya ingat bahwa saya sebenarnya dapat kursi PMDK Farmasi di salah satu Universitas di bagian Timur Jawa, tapi nggak jd diberangkatin. Dan saya ingat bahwa mama, papa, serta kakak saya akhirnya jadi kerepotan dengan urusan perkuliahan saya. Hiks,, maafkan saya Mama, Papa. Pada fase ini saya selalu menyusahkan saja.

Beranjak ke masa kuliah D4. Saya ingat bahwa saya berkuliah di tempat yang mungkin tidak banyak orang tahu, bahwa saya harus terpisah dari keluarga, bahwa saya dituntut untuk mandiri, bahwa saya harus belajar mengelola keuangan, dan bahwa saya yang tak suka belajar ini mau tak mau harus belajar saat musim ujian tiba. Alhamdulillah saya bisa lulus dengan nilai yang nggak jelek-jelek amat dan nggak telat-telat banget. Oiya,, berkat kuliah di tempat itu, saya berhasil hidup di beberapa kota yang bahkan terlintas namanya pun tidak.

Selang sebulan dari kelulusan, kemudian saya menikah. Jujurly, saya berharap bisa menikah dengan orang spesial gitu, seperti yang kala itu dekat pada harapan saya. Tapi ternyata Allah kasihkan orang yang istimewa untuk mendampingi saya. Menyesal, Widh?! Yasih dikit, tapi banyakan enggaknya. Artinya, saya nggak menyesal menikah usia muda dengan kakanda. Etapih entah dengan doi. Muihihi…

Menikah adalah fase yang baru. Ternyata banyak serunya daripada sebelnya. Menikah itu proses perkenalan seumur hidup. Seru sih karena akhirnya sekarang kalo berdoa, jelas doanya diperuntukkan siapa. Seru juga punya pacar halal, kesana kemari jelas sama siapa. Serunya lagi semacam punya partner in every condition gitu lah. Tapi baru beberapa bulan menikah, akhirnya hatus jauh-jauhan. Heu,, anggap aja lagi pacaran lah, mengingat sebelum menikah cuma kenal 4 bulanan doang.

Nah,,, kemudian masa melanjutkan kuliah. Ternyata jadi mahasiswi lagi pasca menikah itu berat. Awal-awal, beberapa kawan tak percaya saya sudah menikah. Malah ada yang sampe pedekate segala 😬. Itu sih yang bikin berat. Padahal udah dibilang, saya udah nikah. Malah dikira saya bohong. Heu,, aku kudu piye.

Fase ini, saya menjalani hidup ala mahasiswi indekos lagi. Itu tak sulit bagi saya. Mudah saja melaluinya. Ahh,,, perjuangannya masa ini yang paling berat. Detik-detik menjelang penelitian tesis, saya positif hamil. Menjalani semua rutinitas kampus, rutinitas penelitian, hidup ala kadarnya, jauh dari kakanda dan keluarga, kadang kalau diinget dengan teliti mbikin mbrebes mili. Kakak & mas ipar mungkin jeleh bin sebel sama kegejean saya. Pasti dipikirnya, lah baru segitu aja mewek, galau, apaan sih?! Ahh, yaa,, saya memang bocah. Maafkan saya mbak, mas, kalau dulu sering syebel maksyimal sama keababilan saya.

Dengan berpeluh-peluh (yang tak seberapa itu), akhirnya bisa kelar juga itu tesis, bisa lulus juga saya. Dengan nilai yang nyaris kumlot, tertinggi kedua dijurusan. Hora popo, penting lulus. Uehehe… Sepekan setelah urusan kampus, saya melahirkan. Nggak kok, nggak pake perjuangan. Cuman gitu doang.

Dan sekarang, tau-tau brindilannya udah dua aja. Fase hidupnya sekarang fiks jadi emak-emak 3G (Gendong, Gandeng, Gembol). Muihihi… Sekarang rumah hampir selalu berentokan + ramai suara cenger bocah. Ntar tau-tau udah pada sekolah, rumahnya sepi. Nggak lama gitu, tau-tau udah pada kuliah, makin sepi lagi.

Salahnya saya dulu adalah kurang bisa menikmati fase-fase itu dan nggak ada yang kasih tauin “udah kamu nikmatin aja”. Karena sebenarnya tak perlu jadi sempurna untuk menikmati hidup. Cukup jadi diri sendiri, tambah kesyukuran diri. Ngeliat yang lebih dari kita, lapangkan dada, sambil berdoa yang baik-baik untuk dia juga kita. Disyukuri yang sudah ada. Liat yang kurang dari kita, doain yang lebih untuk dia sambil kitanya teruuusss bersyukur. Gitu aja sih.

Sekarang, sebisa mungkin menikmati fase-fase hidup yang musti dilewati, supaya ada cerita. Pun nanti saya akan jelaskan ke anak-anak bahwa kita mungkin tidak bisa seperti si x, si y, atau si z. Semoga kita bisa lebih bersyukur dengan fase hidup kita sekarang. Dinikmatin aja. Sambil trus berharap semoga berkah. Udah gitu aja.

Selamat bertambah tua untuk diri yang kerdil hina dina ini. Semoga kamu jadi tambah bersyukur dengan semuuuaaa yang sudah Allah berikan untukmu ya, Widh!

Tinggalkan komentar »

Digombalin…


Dua bulan belakangan, saya mulai kembali disibukkan dengan hal-hal berbau kesekretariatan. Tiga tahunan vakum cukup membuat saya ‘gagap’ dengan sesuatu yang sifatnya sangat administratif. Mulai merapikan kop surat, mengurutkan momor surat, merekam surat keluar masuk, prin mengeprin, dan printilan kecil-kecil lainnya.

Dulu,,, duluuu sekaliii, saya sangat akrab dengan hal-hal demikian. Semenjak selesai kuliah, berakhir juga masa jabatan organisasi dan aktivitas peradministrasian. Ceritanya dulu jaman masih ngampus, wara wiri di sana sini kepanitian. Tapi herannya selalu nggak jauh-jauh dari sekretaris atau sie acara. Duh… Temen-temen yang kenal saya pasti bosen. Kok widhya lagi, widhya lagi. Semacam nggak ada orang lain aja. 🙈

Nah, sekarang ceritanya, dua bulanan ini saya dicemplungin lagi ke dunia yang berbau-bau kesekretariatan. Berawal dari saya yang ababil ini tetiba ditunjuk jadi sekretaris kepanitian acara ibu-ibu majelis taklim. Acaranya sih sekedar mengumpulkan ibu-ibu pkk serta majelis taklim se-kelurahan Jurangmangu Barat supaya datang talk show bersama ustadzah Kingkin Anida dan dapat penyuluhan dari BNN. Tapi, bagi saya ini acara luar biasa besar.

Saya harus intens mendatangi satu dua rapat, membuat notulensi rapat, membuat proposal acara, mengurusi surat menyurat, dan hal-hal lainnya. Dulu sih apa-apa masih sendiri. Lha sekarang gembolannya udah dua gundul. Jadi kemana-mana yaa kudu diajak. Nggak masyalah lah itu. Tapi pada saat yang bersamaan, laptop perjuangan saya, benar-benar tak bisa diajak berkompromi. Jengjengjengjeng….. Sedih? Iya! Kesel? Banget! Tapi apalah daya…

Mungkin laptop saya capenya udah lama, ngadatnya aja baru ditunjukin sekarang. Heu,,, gimana ceritanya cobak sekretaris tanpa laptop. Alhamdulillah meskipun ncit ncit ngik ngok ngik ngok, masih bisa lah diajak jalan juga. Fiyuh,,, sayanya udah kudu lari, anak-anak selak ruiwil, badannya selak remuk redam, tapi laptopnya minta jalan sambil dituntun pelan-pelan. Baiklah,,, Widhya jabanin…

Eniwei,, masalah laptop sedikit teratasi, mendadak printer jaman kakanda skripsian, ngadat juga. Tinta habis, katrit bermasalah. Apa jadinya surat-surat yang keburu harus ditanda tangan dan diserahkan tapi nggak bisa terprin. Pengen nangis sejadi-jadinya. Tapi saya bikin gampang aja. Sebisa mungkin yang musti diprin, sudah diselesaikan lalu widhya simpan di flesdis. Sambil bawa dua gundul, urusan + tanggung jawab harus tetep kelar, apapun kondisinya.

Sabtu pagi, dua anak dimomong kakanda, saya naik motor bawa tas gendong andalan, pergilah saya ke seputaran kampus stan gerbang ceger. Ini urusan prin mengeprin, kopi mengopi, harus selesai hari itu juga. Ketika selesai ngeprin, saya minta dikopi sejumlah yang saya inginkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Saya : “Mas, ini 8 lembar, minta dikopi 150 rangkap, bisa?” (sambil buru-buru)

Tukang fotokopi: “Bisa, Neng.”

Saya: “Diambil ½ jam lagi bisa?”

Tukang fotokopi: “Apa sih yang nggak bisa untukmu, Neng.” (sambil senyum-senyum kerling mata)

Saya: “Oke, Makasih.” (sambil ngeluyur pergi)

 

Hueekk,,, saya digombalin mas-mas tukang fotokopi. 😂😂
Sampe rumah, saya cerita kakanda.

Saya: “Kanda, tadi widhya ngerasa digombalin tukang fotokopian, dipanggil ‘Neng’ pula.”

Kakanda: “Emang kalo sendirian masih pantes kok dipanggil ‘Neng’.”

 

Dan sampe sekarang saya nggak ngerti kalimat kakanda itu jenis gombalan atau ngelulu. 😑
Jadi intinya tulisan ini mau cerita apa sih kamu, Widh?! Nggrambyang ra keruan. Hentahlahh… Silakan diterjemahkan sendiri. Yang jelas, dua anak sedang tertidur di sebelah saya. Dan saya nggak bisa merem ikut tidur. 😂

Tinggalkan komentar »

Dia,, Yaa Memang Dia.

Dia, enam tahun yang lalu bukanlah orang yang saya inginkan. Enam tahun yang lalu, dia bukan orang yang ada dalam doa-doa saya. Yaa,, kaareenaa saya menginginkan orang lain, sehingga orang lain itu yang ada dalam hampir tiap doa saya. (Maafkan saya, tapi memang begitu adanya… 😂)
Tapi Allah bilang lain. Kata Allah, dia lah orang yang akan menggenapkan separuh dien saya, bukan orang lain itu. Jadi,, meski saya berdoa sampe koprol segimana juga, kalo Allah berkehendak dia yang menjadi jodoh saya, yaa dia. Bukan orang lain itu. Muihihih… Berdoa kok nganggo koprol.
Lima tahun belakangan, dia sukses memenuhi hari-hari saya, doa-doa saya. Dia yang kini menjadi bagian hidup saya. Bukan bagian ding, tapi memang melengkapi hidup saya. Allah tu ngasihnya udah pas lah. Coba kalo saya dapet orang lain, apatah ada yang lebih sabar menghadapi ‘keriuhan’ saya selain dia. Hayombuh widh, mempersoalkan kok ketentuan Gusti Allah, ora oleh, ora ilok!
Nggak kok, nggak mempersoalkan sama sekali. Tapi justru bersyukur, Allah kasih dia untuk saya. Saya wanita paling beruntung di dunia karena mendapatkannya. Kata orang, dia banyak kekurangannya. Tapi buat saya, dia melengkapi kekurangan-kekurangan saya.
Dia mampu membuat saya jatuh cinta berulang kali. Tapi jatuh itu kan identik dengan sakit. Yaaa,,, karena memang terasa sakitnya saat saya belum bisa memberi banyak hal untuknya, padahal dia sudah memberi buanyak untuk saya. Heu…
Dia,,, lelaki yang baik hatinya, baik perangainya, baik budi pekertinya, meski kadang-kadang nyebelin. Dia,,, kakanda, abi dari anak-anak saya, suami saya. Ehehehe… Sampe detik ini, saya belum bisa dan belum biasa membahasakannya ‘suami’. Masih aneh berasanya. 😬
Semoga dia sehat selalu, sabar selalu, ramah selalu, baik hati selalu. Nggak kok, widhya nggak sedang ngajuin proposal apa-apa. Widhya cuma pengen belanja buku. Udah gitu aja. *kerlingmata 😉

2 Komentar »

Anak Ini…

​Akhir-akhir ini saya sudah juarang sekali posting kegiatan mas qean, hampir nggak pernah malah. Ambles ketutup postingan bekal kakanda. Hehe,, Saya nggak pernah post bukan berarti si mas nggak ada kegiatan. Sehari-hari, saya tetap berusaha memberikan kegiatan, meski sederhana. Hanya saja tidak terdokumentasikan dengan baik.

Lagi asik menemani si mas berkegiatan, adiknya ngglundung. Jadi fokusnya terpecah. Huehehe,,, sebenernya adik nggak boleh jadi alasan yaa. Begitu pun sebaliknya si mas juga nggak boleh dijadikan alasan. Tapi apalah daya. Saya hanya emak biasa. Kadang lagi asik berduaan dengan adik, si mas minta pup. Jadiii,,, yaaa gituuu dehhh..

Tanggal 2 Oktober tahun ini, si mas berusia tiga tahun. Mas qean ini kategori anak yang manis menurut saya. Meskipun sesekali bikin naik pitam juga. Hehe.. Ditiga tahun usianya, sampai detik saya menuliskan ini, yang namanya urusan bobo masih harus banget dikelonin ummi. Tangan saya harus nyelempang di perutnya. Posesif banget dah sama ummi. Nggak boleh liat ummi gandengan sama abi, nggak boleh ummi bobo di sebelah abi, “pokoknya ummi-ku”. Oookeee..

Sering saya mbrebes mili ketika melihatnya tertidur pulas. Anak ini yang dulunya tak arep-arep, anak ini yang baru dikasih sama Allah saat memang saya benar-benar siap, anak ini yang nemenin saya menyelesaikan masa-masa kritis urusan pertesisan, anak ini trial and error-nya saya juga kakanda, berjuta harapan bertumpu pada anak ini, selaksa doa kami lantunkan untuk anak ini.

Itulah saya bilang, masih trial and error, saya masih belajar ke sana sini, di sana sini, pada sana sini, untuk meningkatkan kapasitas diri, memantaskan diri, menjadi ibu yang baik untuknya, juga adiknya. Kalo ada yang nggak setuju ‘buat anak kok trial and error?!’,, yaa monggo. Ini murni apa yang saya rasakan. Karena jadi ibu itu nggak ada sekolahnya. Heu… Mau jadi pengacara, guru, dokter, perawat, petani ada sekolahnya, mau jadi pegawe pajek juga ada sekolahnya. Tapi mau jadi ibu, sekolahnya dimana. Heu,,, kalo ada yang nemu, mbok saya mauuuu dibagi informasinya. 

Semoga Allah kuatkan, Allah mampukan, Allah siapkan, saya juga kakanda, untuk menjadikannya raja ditujuh tahun pertamanya, menjadikannya tawanan ditujuh tahun keduanya, dan menjadi kawannya ditujuh tahun ketiganya. Semoga jadi anak sholih wal mushlih, sehat, kuat, serta bermanfaat untuk ummat. Semoga mampu memberi panutan untuk adiknya juga sekelilingnya. Semoga mampu memberi tiket ke surga untuk saya juga kakanda.

Tak ada yang sesempurna Rosul dalam mendidik anak-anak, tak perlu merasa bersalah, kita hanya perlu belajar meniru cara Rosul mendidik anak-anak kita. Ini sih saya aja yg ngerasa. Hiks… Jujurly, saya kerap merasa bersalah karena belum mampu memberi teladan yang baik. Penerapan roleplay komunikasi yang baik aja masih terseok-seok, sumbunya puendek, masih sering terpantik. Kuatkan, kuatkan, kuatkan ya Rabb. 

Di pundak-pundak anak kitalah peradaban kelak akan bertumpu. Ingin memberinya lingkungan yang terbaik, pendidikan yang terbaik, supaya jadi anak hebat. Tapi,,, bukan itu. Saya ingin menciptakan benteng yang baik untuknya, sehingga kelak dia bisa memilah, menyaring, menimbang, dan memutuskan apa yang baik untuknya serta agamanya apa yang tidak, apa yang bermanfaat untuknya serta agamanya apa yang tidak, dan seterusnya dan seterusnya. Mohon doanya, nggih. 

Disclaimer: ini murni tulisan curcol mamak-mamak mengeluarkan hasrat 20.000 kata per hari. 😬

Tinggalkan komentar »

Aku Sungguh Sangat Mencintaimu karena Allah, Mbak.

Ketika matahari akan tenggelam hari ini, barulah widhya nangis sejadi-jadinya. Rasanya ingin menumpahkan segala rasa yang ada. Widhya kehilanganmu, Mbak.

Hanya kenangan-kenangan baik yang widhya ingat tentangmu. Tak ada secuilpun kenangan buruk tersisa darimu. Widhya iri padamu, Mbak.

Begitu banyak yang merasa kehilanganmu. Begitu banyak yang mendoakanmu. Widhya ingin sepertimu, Mbak.

Tak pernah satu gurat kesedihanpun kau tampakkan di wajahmu. Kekuatan serta ketegaran yang selalu kau munculkan. Aura positif selalu berpendar darimu. Widhya ingin berjumpa denganmu, Mbak.

Sungguh kematian adalah sebaik-baik pembelajaran. Betapa ia sangat dekat. Seberapa besar kesiapan kita menyambut malaikat maut. Allah kariim… Widhya ingin memelukmu, Mbak.

Tunggu widhya. Ahh,,, tapi bagaimanatah widhya memintamu menunggu. Sementara diri ini masih berlumur dosa, penuh alpa hina dina. Widhya merindumu, Mbak. 

Biar widhya simpan sejuta kenangan indah tentangmu, Mbak. 

Biarlah segala rasa tentangmu, cukup menjadi penyemangat hidup widhya, mempersiapkan pertemuan widhya menghadap Sang Maha Cinta.

Aku sungguh sangat mencintaimu karena Allah, Mbak.

*ditulis dengan segala rasa tak terungkap untukmu saudari terindahku, Sri Yayu Ibrahim.

Pondok Aren, Jumat, 290716, 17:40WIB

Tinggalkan komentar »

Rekam Jejak Bayi

Diusia adik #QKD kemarin yang belum genap dua bulan, ini adalah ‘rekam jejak’ berapa kilometer jarak yang sudah ditempuhnya. Hihi..

Ini hasil capture + crop dari mbak waze

Bayi ini sudah diajak sedikit nekat mudik dari Pondok Aren ke Karanganyar. Menurut mbak waze jaraknya adalah ± 491,3 km pada kamis sepekan sebelum lebaran. Untung belum kejebak macet di Brexit yang horor gilak. Andai berangkat hari jumat, pasti stres karena macetnya yang ampun-ampunan.

Lalu lebaran h+2, diajak uti silaturahim ke Magelang. Dari Karanganyar, tampak jaraknya adalah ± 81,6 km. Pp berarti ± 163,2km. Berangkatnya aman jaya, pas balik dari Magelang kena macet di lingkar salatiga sampai hampir masuk Boyolali. Tapi anaknya juga anteeeng aja.

Padahal h-1 lebaran, adik diajak silaturahim ke rumah simbahnya di Jenawi. Si mbak waze bilang jaraknya ± 21 km. Pp berarti ± 42 km.
Lalu h+6 pasca lebaran, adik diajak ke Gemolong. Mbak waze bilang jaraknya ± 26,1 km. Pp berarti ± 52,2 km. Maklum mbah-mbahnya banyak. Pulang dari Gemolong, diajak ke Situs Sangiran.

Sepekan setelah lebaran adik diajak ke Pantai Depok. Hihi,, bayi diajak ke Pantai. Kata mbak waze jaraknya ± 85,5 km. Pp berarti ± 171 km. Agak iwil-iwil pulangnya, karena adik pake acara gumoh (muntah asi) 3x. Ummi lupa bawa pompa asi. Jadi ini bayi semacam mabok asi, mungkin cape juga. Sempat nangis agak lama sekitar setengah jam tanpa henti, sampai harus menepikan kendaraan sesaat biar adik tenang. Tapi alhamdulillah, adik nggak kenapa2.

Total jarak tempuh bayi #QKD adalah 491,3 + 163,2 + 42 + 52,2 + 171 = 919,7 km. Ini belum termasuk perjalanan dia di Pondok Aren yang baru tiga hari sudah diajak ngemoll dan empat hari ke Cisauk. Belum yang selama di solo, kota-kota, kampung-kampung. Hihi…

Dan insyaallah akhir pekan ini adik akan balik ke Pondok Aren.

Doakan aku ya…

Terlepas tepat atau tidak jarak tembakan si mbak waze, ini cerita mudikku. Mana ceritamu? 😊

2 Komentar »

​Qenareswari Khodijah Dhante

Aku lahir dengan sangat mudah, meski ummiku pake acara lebay. Dua bulan yang lalu, tanggal ini, subuh hari waktu ummi menyiapkan sarapan dan bekal untuk abi, sudah merasakan mules-mules. Aku sudah mulai cari jalan lahir.
Sebelum berangkat ke kantor, abi sempat bertanya pada ummi, “Gimana nih? Abi berangkat apa enggak?”. Dengan tegas ummi menjawab, “Sudah,, berangkat kantor aja. Mulesnya juga masih bisa tertahan kok.”

Aku memberikan kesempatan untuk abi berangkat ke kantor. Ssstt,, jangan bilang-bilang yaa. Sebenernya itu modus biar tukin abi nggak terpotong banyak. Kan buat biaya lahiran aku juga. Hihi…

Hari itu, kata ummi, mas Qean sedang demam sampai 38,7 dercel. Jadilah hari itu rumahnya bersih, mas Qean cuma tiduran aja di depan tivi. Sepertinya mas Qean tau aku mau lahir. Mas Qean pinterrr bangettt kata ummi, soalnya membantu ummi yang sudah mulai merasakan kontraksi. Nggak ada acara rewel sama sekali.

Jam dua siang, abi menanyakan kabarku lewat whatsapp ke ummi. Sejak subuh ummi sudah mulai pasang stopwatch, jadi ketawan kontraksi yang dirasakan berapa menit sekali dan berapa lama rentang kontraksinya. Ketika abi menanyakan pada ummi, aku sudah memberikan sinyal ke ummi setiap delapan menit sekali selama 40 detik sampai satu menit.

Abi memutuskan untuk pulang cepat. Ba’da sholat ashar, abi berangkat dari kantor. Sampai di rumah sekitar pukul setengah 5 sore. Ummi masih sempat memandikan mas Qean, menyiapkan semua ubarampe perangkat bersalin yang sekiranya akan dibutuhkan selama bermalam di klinik.

Abi menggendong mas Qean masuk ke mobil sembari ummi mengunci rumah. Dari mulai mengunci rumah sampai menutup gerbang, aku sudah dua kali memberi sinyal ke ummi. Selama di dalam mobil perjalanan menuju klinik tempat aku akan dilahirkan, aku sampai tiga kali memberikan sinyal. Padahal jarak dari rumah ke klinik, tidaklah jauh.

Sekitar pukul 17.30 WIB, kata bu bidan ummi sudah bukaan tiga. Masih tujuh lagi sampai aku benar-benar siap untuk dilahirkan. Bu bidan menyarankan ummi beristirahat di ruang rawat lantai dua, sembari sholat maghrib. Abi menyarankan ummi untuk menjama’ sholat maghrib dan isya. Selama sholat, lagi-lagi aku memberikan sinyal pada ummi, kali ini semakin kuat.

Sekitar pukul 18.30 bu bidan yang membantuku hadir ke dunia, menyarankan ummi untuk pindah ke ruang bersalin di lantai satu. Itu artinya ummi harus membawaku menuruni satu persatu anak tangga, sambil pringas pringis menahan sakit. Pukul 19.40-an, kata bu bidan, air ketuban yang selama sembilan bulanan menjadi tempatku berenang, pecah.

Saat itu ummi sudah mulai tidak kuat menahan sakitnya, jadilah ummi memohon-mohon pake lebay pada bu bidan untuk dilakukan vakum saja. Kondisinya saat itu, ummi ditemani bude inge. Abi masih ngelonin mas Qean untuk segera tidur. Satu jam sebelum aku lahir, barulah abi bisa menemani ummi.

Alhamdulillah bu bidan yang membantuku bertemu ummi abi, sabaaarrr sekaaaliii menghadapi ummi yang rewel plus lebay. Saat ummi merengek minta divakum, bu bidan masih sempat mengedukasi ummi. Bahwa vakum hanya bisa dilakukan jika bukaan sudah lengkap tapi bayi tidak mau turun. Lagipula saat itu kondisiku + ummi terpantau masih sangat prima.

Tanpa bantuan induksi, akhirnya aku lahir pukul 20.42 WIB ketika ummi mengejan dua kali. Pada ejanan ketiga keempat, bu dokter menghentikan ummi yang masih semangat ngejan padahal aku sudah lahir. Hihi…

Alhamdulillah yaa,, setelah sembilan bulanan aku di perut ummi tanpa drama sama sekali, akhirnya aku nangis kenceng, ditimbang dan diukur sebentar, lalu langsung ditempelkan ke dada ummi. Aku yang lahir dengan BB 3140 gram dan TB 47cm, akhirnya bisa IMD selama sejam. Aku berusaha mencari dimana sumber makanan utama yang akan mengisi perutku selama enam bulan kedepan sambil menjejak-jejak di atas dada + perut ummi selama satu jam.
Pukul 23.00 WIB ummi menggendongku naik ke ruang rawat. Bu bidan yang merawatku + ummi, sampai tak percaya. Berkali-kali menanyakan pada ummi, apakah ummi pusing atau tidak, apakah ummi mual atau tidak. Karena katanya ummi tampak tidak seperti orang yang  habis melahirkan.

Ini aku waktu baru lahir. Kata orang-orang, rambutku tebal sekali.

Paginya, ummi makan sudah macam kuli. Sepiring nasi goreng yang disuguhkan dari klinik disantap habis. Tak lama abi membawakan sebungkus nasi uduk, itu juga disantap habis oleh ummi. Padahal biasanya nasi uduk sebungkus buat berdua sama mas Qean. Hehe…

Aku diijinkan pulang 24 jam setelah aku lahir. Sepekan kemudian, ummi dan abi mengadakan aqiqoh kecil-kecilan sebagai bentuk syukur dan menjalankan sunnah. Ketika aqiqoh diumumkan namaku Qenares Khadijah Dhante. Setelah melalui pergulatan yang panjang, finally namaku Qenareswari Khodijah Dhante.

Qen diambil dari Ken (bahasa jawa) artinya orang baik, pintar. Ken (bahasa jepang) artinya sehat, kuat, sederhana. Nareswari artinya perempuan. Khodijah adalah nama istri pertama Rosulullah. Abi dan ummi pengen aku bisa meneladani semua kebaikannya. Dhante diambil dari nama ummi abi, wiDHyAnua & haNung TEguh.
Harapannya, aku jadi anak perempuan yang baik pintar, sehat, kuat, sederhana semoga bisa meneladani kebaikan-kebaikan bunda Khodijah r.a. seperti harapan ummi + abi. Doakan aku jadi seperti nama yang disematkan padaku ya.

Dan ini,, aku pagi ini.

Tinggalkan komentar »

Without Television

Jadi ceritanya, sejak jaman awal menikah sebenernya pernah punya komitmen sama kakanda untuk meniadakan benda kotak bernama televisi di rumah. Bukan mengharamkan tivi, kami pun bukan garis keras ekstrimis anti tivi (bahasakuuu rekk..). Awal-awal kami menikah, kami harus berjauhan. Kakanda di banda Aceh, saya ngekos di purwokerto. Kebetulan di kos-kosan, televisi itu cuma jadi pajangan, karena memang sudah lama sekali tidak bisa hidup. Kalaupun bisa hidup cuma bisa ngeliat gambar samar yang seluruh areanya dipenuhi oleh kenampakan semut main bola. Aman lah ya.

Sesekali banget nonton tivi pas beli nasi bungkus atau striming. Striming juga banyakan bufferingnya. Suara kemana gambar kemana. Maklumlah jaringan inet kala itu belum secanggih sekarang. Bagaimana dengan kakanda di Banda Aceh? Sama. Dia nggak hobi nonton tivi. Nonton dari hardis, iya.

Nah, semenjak kami menjadi satu di BSD (baca: bintaro sonoan dikit), kami dapet lungsuran televisi dari budenya mas QSD. Tivi tabung 14inci merek tosh*ba dengan tombol power yg harus diganjel sodo (baca: lidi) dan beberapa tombol pada remot sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Ini tivi bersejarah banget buat budenya mas QSD. Tivi yang menemaninya sejak awal kuliah D3, sekitar tahun 2003 lah. Sampai sekarang tivi ini masih menyala dengan baik. Tapi remot sudah sama sekali tak bisa dipakai. Jadi,,, kalau mau nonton tivi harus langsung dicolokin ke listrik, kalau mau mematikannya yaa cabut colokannya. Kalau mau ganti channel ya harus mendekat dan ndudul tombol di sebelah tombol powernya itu. 😁

image

Ini yang saya sebut tivi bersejarah

Beli tivi baru sih bisa-bisa aja, tapi kami nggak tivi holic. Mas QSD juga masih bisa dialihin perhatiannya dengan memberinya banyak aktivitas. Mulai membaca, bermain balok, melempar bola, mberantakin buku, atau sekedar mainan mobil-mobilan.

image

Ini beberapa open ended play nya si sholih

Per tanggal 25 April 2016, abinya mas QSD back to work. Artinya, seharian penuh saya akan bersama mas QSD. Saya sudah khawatir dia akan mati gaya seharian ditinggal abi ke kantor. Tapi saya benar-benar berazzam untuk bisa mengalihkan perhatiannya dari tivi. Pagi sampai sore, full saya setel murottal dari laptop. Beberapa kali dia protes, dengan cara menutup layar laptop yang membuat tiba-tiba suaranya hilang. Hihi,, tapi saya pantang menyerah. Saya buka lagi, saya nyalakan lagi.

Seharian kemarin sukses tanpa tivi. Mas QSD juga tidak merengek minta nonton tivi atau merebut hp saya. Dia baaaiiikk sekali, maaniiss sekali. Bermain sambil menyimak saya murojaah surat-surat pendek yang banyak bececeran (kagak nambah-nambah). Sesekali minta ngemil (Kanda, di rumah harus siap sedia cemilan yang banyak yaa). Jadi,,, membuat QSD (dan emaknya) anteng itu gampang saja, sogok dengan cemilan yang banyak. Hahaha…

Hari ini, day two without television. Anak hepi, emak pun hepi. Doakan kami kuat, doakan kami mampu.

image

Ini dia mainan boneka jari dan memasangnya sendiri.

Tinggalkan komentar »

Selalu Ada Drama di Balik Wisuda

Selalu ada drama di balik wisuda. Gimana enggak?! Begini ceritanya…

Pertama, bulan Juli 2011 saya musti melaksanakan wisuda diploma 4 di politeknik negeri jember. Saat itu saya masih manten baru 3 bulan, tetiba dapat panggilan wisuda. Posisi saya sudah ikut kakanda ke Banda Aceh. Jujur saja saat itu kondisi keuangan kami masih belum mapan (bukan berarti sekarang sudah mapan, setidaknya lebih temoto lah ya, hehe). Namanya baru selesai kuliah gres bulan Maret, bulan Aprilnya nikah, awal Mei ikut ke Banda Aceh, lalu tengah Juli harus ke Jember. Kalau tak ingat yudisium dan wisuda yang saya ikuti adalah syarat untuk mendapatkan ijazah kelulusan, malas kali lah rasanya ikutan ceremony macam tu.

Akhirnya diputuskan saya seorang diri saja berangkat ke Jember, tanpa kakanda. Sepekan di Jember, saya ngemper-ngemper numpang kamar sama kawan-kawan yang masih tersisa, sambil menyelesaikan semua urusan peradministrasian terkait ijazah. Maklumlah harga tiket Banda Aceh – Jakarta – Surabaya – Jember seorang diri saja, lumayan menguras kantong kami. Sayang uang rasanya jika harus menyewa kamar kost dengan harga satu bulan dan hanya ditempati selama sepekan. Alhamdulillah ada kawan yang berbaik hati mau berbagi kamar dengan saya dan dua kawan lain.

Singkat cerita, tiba due date wisuda saya tak didampingi kakanda. Papa dan adik saya yang datang dari Solo demi memenuhi undangan wisuda. Sebel, mangkel, kesel, rasanya. Saya yang sudah punya pendamping ‘resmi’ eehh nggak bisa hadir. Sedangkan kawan-kawan saya yang lain sampai rela ‘mencari’ pendamping.

Oiya, tepat sebelum papa dan adik saya berangkat ke Jember, pake acara kecurian dooong. Baju kebaya yang rencana akan saya pakai, hilang. Termasuk seluruh isi tas papa yang berisi perangkat dokumen saya yang masih tertinggal. Fiyuh… Udah mah pendamping resmi tak bisa hadir, papa kecurian, dokumen-dokumen penting saya raib kala itu. But life must go on.

Kedua, bulan Desember 2013 saya musti melaksanakan wisuda strata 2 di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Saat itu saya seorang diri bersama mas QSD di kamar kost yang memang sudah saya bayar hingga waktu wisuda tiba. Saya adalah ibu baru menjelang dua bulan, bahkan nifas saja belum selesai, masih gagap dengan cara merawat bayi, seorang diri pula.

Pagi hari saya mandikan dia, lalu saya tidurkan, baru saya mencari sarapan. Siang dan malam saya makan sekenanya. Bisa nitip ke adik-adik kost, alhamdulillah. Kalau tak bisa, yaa sudah. Kemana-mana jalan kaki sambil nggembol mas QSD. Oiya, kesulitan saya kala itu adalah menitipkan asip. Di kost yang saya tempati tak ada kulkas. Padahal asi saya sedang deras-derasnya. Akhirnya saya musti menitipkan asip di kost salah seorang kawan kuliah. Padahal jarak kostnya dari kost saya lumayan bikin gempor kaki jika berjalan sambil gendong QSD. Akhirnya saya musti pintar-pintar atur waktu perah, supaya asip tidak basi dan sekali saja berjalan kaki menitipkannya. Tak ada cooler bag sebagai alat bantu.

Dua pekan berjalan demikian. Pokoknya kemana-mana pasti gendong mas QSD. Ke kampus ambil toga bawa dia, ke fotokopian juga gendong dia, ke acara gladi resik saya juga satu-satunya yang nggembol bayi, bahkan ke acara pelepasan juga sambil bawa dia. Yaa mau gimana lagi. Mama saya baru bisa hadir malam hari ketika besok adalah hari wisuda. Saya sampai pada taraf cuek bebek dengan tatapan aneh orang-orang kala itu.

Singkat cerita tiba due date wisuda, lagi-lagi kakanda tak bisa mendampingi saya. Bahkan mama yang datang seorang diri tak bisa masuk ke dalam gedung. Mama menunggui mas QSD di luar. Pagi hari sebelum saya masuk ke gedung wisuda, saya perah asi untuk mas QSD. Alhamdulillah bisa dapat satu botol penuh. Setidaknya aman untuk setengah hari saya tinggal. Mama harus segera kembali ke Solo selepas acara wisuda selesai, sedangkan saya harus tinggal sepekan lagi supaya bisa ambil ijazah beserta transkripnya.

Dua pekan saya di Purwokerto, ada sekitar 15an kantong asip. Ketika kembali ke Jakarta, asip tersebut saya titipkan di freezer yang tersedia di gerbong makan. Alhamdulillah petugas KAInya welcome, mempersilakan saya menitipkan asip. Perjalanan berdua saja dengan mas QSD, dua pekan membersamai mas QSD kala itu, adalah pengalaman yang luarrrr biassssaaaa. Membuat saya makin bakoh, makin setrong.

Ketiga, tanggal 30 Maret 2016 kemarin ini, akhirnya kakanda gantian yang musti menjalani prosesi wisuda. Alhamdulillah,, setelah dua tahun kakanda berjibaku dengan kubangan tugas, ujian, dan ancaman DO yang silih berganti. Akhirnya wis sudah, rampung juga. Dua tahun yang luarrr biasssa. Pengalaman membersamainya sungguh tak akan terganti. Saya membersamai lelaki yang tangguh. Lelaki yang siap membagi pikirannya antara kuliah, kerja sambilan, dan keluarga.

Tapi lagi-lagi ada drama di wisuda ini. Saya tak mungkin mendampinginya masuk ke dalam gedung. Hahahha,,, dua kali saya wisuda dia tak mendampingi. Biarlah kali ini saya pun tak mendampinginya. Saya bersama dengan dua istri hebat lain yang juga bernasib sama dengan saya, menunggui para suami dari luar gedung sambil momong bocah. Hehe.. Yaa mau gimana lagi.

Berkali-kali saya ucap syukur alhamdulillah ketika prosesi wisuda kakanda berjalan. Saya menungguinya dari luar gedung dimana telah disediakan dua televisi supaya bisa tahu apa yang terjadi di dalam gedung. Oiya,, wisuda kakanda kali ini menjadi kado terindah dimilad ke tiiiiitttt nya. Alhamdulillah,, pecah bisul ya, Kanda. Barakallah… Doa widhya, semoga selalu sabar, selalu ikhlas, dimanapun tempatnya i’ll come along (tjiyeh). Kita sama-sama merintis hidup ya, Kanda. Merintis kehidupan akhirat dengan jalan kehidupan dunia. Love you as always, Nda.

Tinggalkan komentar »

Nikmatnya Sehat

Ketika badan sudah memberikan warning, seperti gebres-gebres, hidung meler, kepala pening, maka solusinya adalah makan dan istirahat. Kalau masih belum oke juga, pulang kampung dan kulineran sepertinya bisa jadi pilihan solusi. *kode

Beberapa hari terakhir nafsu makan sedang tak baik. Hal ini terjadi akibat indera perasa (baca: hati) saya sedang tidak dalam kondisi prima. Efeknya, indera pencecap saya pun semacam menolak makanan yang masuk. Sehari makan nasi sepiring saja sudah oke tuh. Tapi herannya angka penunjuk timbangan kok ya nggak berkurang. Malah makin semangat bergeser ke kanan. Ahh,, itu mah derita gue aja kali ya.

Sejak kemarin suara mulai bindeng. Semalam berlembar-lembar tisu bekas lap ingus sudah masuk tong sampah dengan selamat. Pagi tadi ditambah kepala pening. Siang ini telinga budeg sebelah. Ahh.. Allah… Alhamdulillah masih diberi nikmat gebres-gebres ini. Kata bu ustadzah kemarin sore (yang juga tampak sedang flu berat), “Kalau kita sehat terus maka perlu dipertanyakan nih, jangan-jangan Allah sedang menguji kita dengan nikmat sehat. Coba ingat-ingat lagi, ketika diberi sehat sama Allah, dipake buat apa kesehatannya, inget nggak sama Allah. Kalo lagi sakit gini aja baru deh inget Allah, berkali-kali istighfar. Ya kan?” sambil ngelirik saya yang paaaasss banget lagi sentrap-sentrup. Heu,,, terima kasih sudah diingatkan, Bu.

Yaelah,, Widh Widh… Baru juga dikasih ingus, bindeng, dan pala puyeng, udah ngeluhnya kemana-mana. Mbok ya yang banyak syukurnya. Ditambah lagi sabarnya. Ahh.. Oke.. Baiklah..

Untuk semua yang sedang kurang fit, syafakumullah. Semoga lekas fit kembali seperti sedia kala. Puncak musim hujan masih belum tiba kata berita. Jaga kondisi, jaga hati. *eh

Tinggalkan komentar »