simple thing here…

mencoba berbagi tentang apa yang coba dilihat, dengar, rasakan…

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 8

Acara pertemuan keluarga yang sesungguhnya itu, menghasilkan kesepakatan, bahwa hari pernikahan Risa Swastika dan Aditya berlangsung diakhir pekan ketiga bulan berikutnya. Dua keluarga mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan.

Risa terus berdoa pada yang Kuasa, memohon petunjuk serta kejernihan hati menyambut hari pernikahannya. Ia memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, mengharap ridho Tuhannya. Meskipun sosok Adit masih misterius bagi Risa, ia terus berdoa untuk kelancaran dihari-hari mendatang. Ia siap menghapus bayang-bayang Ardi Tian dari kehidupannya.

Penolakan pada Hanan, ia tunjukkan dengan cara yang cukup elegan. Risa menemui Hanan secara langsung dengan mengumpulkan segenap keberanian. “Maaf, Mas Hanan. Insyaallah pekan ketiga bulan ini, saya akan melangsungkan pernikahan. Saya doakan semoga Mas Hanan segera mendapatkan jodoh terbaik dari yang baik-baik. Mohon doa restunya, Mas.” kata Risa dengan tenang

“Ahh,, begitu. Terima kasih doa dan undangannya. Saya usahakan untuk datang, meski mungkin berat bagi saya melihat Dik Risa dengan yang lain.” jawab Hanan tak kalah tenang

Seusai menyampaikan maaf dan undangan itu, Risa menghembuskan napas panjang. Ia teringat Nurul. Sahabat baiknya itu, tak pernah sekalipun menceritakan perkara laki-laki padanya. Tiba-tiba muncul inisiatif untuk menjodohkan Nurul dengan Hanan. 

Rul, daku nikah kamu harus dateng! Kalo perlu nginep seminggu!

Itu bunyi pesan singkat dari Risa. Tak perlu waktu lama, Nurul membalasnya. 

Yoih, Beib. Tapi ngapain juga nginep seminggu. Ntar kamu berduaan sama suamimu, aku dikacangin. Ogah!

Risa tersenyum membacanya. Ia mulai menyusun rencana untuk mempertemukan Nurul dengan Hanan. Keduanya sama-sama orang baik. Risa ingat kata bu guru agama zaman ia SMP dulu, bahwa yang baik pasti akan mendapat yang baik juga. Sambil terus berdoa semoga keduanya berjodoh.

Akad Nikah dijadwalkan hari Sabtu pukul 09.00 WIB. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan walimah pukul 10.00-12.00 WIB. Kedua keluarga sudah sepakat tak ada acara unduh mantu dan sebagainya. Hanya akad dan pesta walimah sekali saja.

Hari Jumat sore, Nurul tiba. Risa menjemput dari bandara lalu mengantarkan sampai ke hotel tempat sahabatnya menginap. Momen itu menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh Risa. Sudah lama sejak terakhir mereka berjumpa dan mengobrol ngalor ngidul.

“Ehini, mbak manten, kenapa masih keluyuran?” tanya Nurul

“Demi sahabatku ini, makanya masih keluyuran.” jawab Risa

“Gimana gimana? Dag dig dug nggak?” tanya Nurul penasaran

“Nggak dag dig dug, matilah aku! Jantung kan memang dag dig dug.” Risa menjawab sambil terus mengendarai mobil

“Heish.. Kau nii.. Makin pinter aja ngeles!” kata Nurul cekikikan

“Rul, kamu belom kepengen nikah?” tanya Risa mengejutkan

“Yaa pengenlah. Tapi sama siapanya itu yang belom ketawan. Hahaha..” jawab Nurul tertawa

“Bagus! Aku mau to the poin. Mau nggak aku kenalin sama penanggung jawab tempatku bekerja?” tanya Risa

Obrolan mereka selanjutnya dari bandara sampai ke hotel adalah seputar Hanan. Nurul hanya mengiya-iyakan saja semua penjelasan Risa.

Keesokan harinya, ba’da subuh Risa sudah disuruh mandi. Ia yang biasanya paling akhir untuk urusan mandi, hari itu terpaksa mandi paling awal. Periasnya sudah datang sejak pukul 05.30 pagi. Risa hanya nurut saja saat dirias. Riasan dan gaun nikah sudah disepakati yang biasa saja. Tanpa hiasan berlebihan.

Keluarga pak Handoyo datang setengah jam sebelum acara akad nikah. Saat menegangkan pun akhirnya tiba. Risa yang biasa mengenakan kacamata, terpaksa harus melepasnya hari itu. Pandangan Risa sedikit kabur. Ia lupa yang mana sosok Adit, semua yang berjas tampak sama baginya.

Akad berjalan lancar, pak Rido menjadi wali nikah Risa. “Ananda Aditya Wiratama, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anak perempuanku Risa Swastika, dengan mas kawin tujuh dinar dibayar tunai.” pak Rido mengucap dengan jelas

Adit menjawab dengan satu napas, “Saya terima nikah dan kawinnya Risa Swastika binti Rido Hanafi dengan mas kawin tujuh dinar dibayar tunai.”

Kalimat ijab dan qobul yang hanya sesaat itu, menjadi penanda berpindahnya tanggung jawab dari pak Rido ke Aditya. Proses selanjutnya adalah penandatanganan dokumen kelengkapan administrasi dari KUA, sungkeman, dan sesi foto-foto.

Pada sesi foto itu baru Risa bertemu dengan Adit, yang harus mulai ia panggil dengan sebutan suami. Ada perasaan semacam sengatan listrik, saat pertama kali Adit menyentuh tangan Risa untuk keperluan foto. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain menuruti saja perintah fotografer.

Sore hari acara sudah selesai. Hanya ada satu dua tamu yang datang ke rumah hingga malam. Risa sudah berganti pakaian yang lebih nyaman. Ia mulai mengunyah makanan yang memang sudah tersedia. Ia merasa sangat kelaparan, seharian berdiri sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada para tamu.

“Kamu cantik, Risa.” kata Adit sambil menyentuh pundak Risa sekilas dari belakang

Suara cadel Adit yang khas saat memanggil namanya, membuat Risa melayang. Ia masih belum sadar betul apa yang barusan dirasakannya. Ia masih sibuk mengunyah makanan sambil mengatakan dengan lirih, “Terima kasih.”

_bersambung_

Iklan
2 Komentar »

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 7

Hari-hari selanjutnya, Risa mengabdikan diri pada pekerjaannya. Ia sungguh pekerja yang berdedikasi. Setiap tugasnya, ia lakukan dengan sepenuh jiwa. Maka dengan mudah ia mendapat tempat spesial di hati kepala apotek, yang kebetulan masih single. Hanan namanya.

Hanan pribadi yang penuh simpatik dengan pandangan mata menyejukkan. Siapapun yang berdekatan dengannya, akan mudah jatuh hati. Namun sayang, sampai usianya kepala tiga, ia masih saja sendiri. Lelaki itu mengatakan menginginkan Risa jadi pendamping, tepat tiga bulan masa bekerja Risa.

“Risa, mau menikah dengan saya?” tanya Hanan suatu sore sepulang shift

“Dunia saya seperti berubah sejak kedatangan Risa.” katanya lebih lanjut

Hanan tak pernah sekalipun menggoda Risa. Risa sedikit shock. Ia hanya terdiam. Selama ini ia bisa mencium aroma aneh jika sedang konsultasi masalah obat dengan Hanan. Perasaan aneh itu, ia tepis jauh-jauh. Bagaimanapun Hanan lebih senior sekaligus penanggung jawab apotek tempat Risa bekerja.

“Jawaban dari Risa, saya tunggu sebulan lagi. Kalau dik Risa oke, saya siap datang ke rumah sesegera mungkin.” Hanan melanjutkan kalimatnya tanpa memandang wajah Risa

Setelah sampai di rumah, Risa mulai merasa tak tenang. Lagi-lagi bayangan Ardi Tian tiba-tiba hadir. Belum lagi kelebatan sosok Adit. Kini beban pikirannya bertambah dengan ajakan Hanan.

Ia menyaut smartphone putih miliknya. Sejurus kemudian langsung menghubungi Nurul.

Setelah bercerita panjang lebar, Risa meminta saran, “Aku musti gimana dong, Rul? Kang Ardi, Adit, sekarang Mas Hanan”

“Hidupmu beruntung banget sih, Bu! Aku beneran iri lho.” jawab Nurul

“Heu, udah ambil aja dah, ambil hidupku. Aku mau mati aja.” kata Risa berlebihan

“Ahh,, kamu! Udah,, sekarang pejamkan mata, tarik napas, hembuskan.” ajak Nurul

Risa menuruti perintah Nurul, “Trus?”

“Sekarang kamu buang jauh-jauh bayangan tiga lelaki yang tadi kamu sebut! Kamu istikhoroh sana. Yang paling penting, istikhoroh tu, ga boleh ada rasa condong pada salah satunya.” Nurul memberi komentar

“Kenapa gitu?” tanya Risa sedikit protes

“Percuma kalo kamu istikhoroh tapi udah condong pada salah satunya! Langsung aja pilih yang itu. Ga usah susah-susah istikhoroh.” jawab Nurul

“Hmmm,, oke oke. Habis istikhoroh itu nanti langsung keluar jawabannya gitu kah?” Risa penasaran

“Coba aja dulu, Bro! Kalo belum ada jawaban, tinggal diulang lagi deh.” Nurul menenangkan

“Okesyap, Sist!” jawab Risa

Segera setelah telepon ditutup, Risa mengambil wudhu. Ia meniatkan diri melakukan istikhoroh. Semua panduan dari sahabatnya, telah ia lakukan. Ia pun berdoa, “Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (Hadits riwayat Al Bukhari)

Doa itu ia ulang-ulang. Nyatanya, tak ada jawaban yang muncul ketika itu. Risa berniat sholat istikhoroh selama sepekan setiap hari.

Tiga hari berlalu, ia pun belum menemukan petunjuk. Baru pada istikhoroh keempat, ia mendapat jawaban. Dalam sholatnya, seolah ada bisikan yang mengatakan untuknya memilih Aditya, anak sahabat ayah Risa.

Malam harinya segera Risa memberi tau pak Rido, “Pa, Risa siap menikah dengan Adit.”

“Kamu yakin Risa?” tanya pak Rido

“Iya, Nduk? Kamu yakin kan?” tanya bu Riani

“Kakak sadar to ini?” tanya Ringga

“Insyaallah yakin dan sadar. Segera aja deh papa bilang ke pak Handoyo biar mereka segera datang ke rumah. Langsung aja tentukan tanggal nikah. Nggak usah mewah-mewah ya, Pa. Undang kerabat dekat, udah. Yang penting esensi akad + walimahnya terpenuhi.” jawab Risa mantab

Pak Rido dan bu Riani mengucapkan hamdalah hampir bersamaan. Perlahan bayangan Ardi Tian bisa ditepis, menemui Hanan pun tidak menjadi beban lagi. Sebelum sebulan, Risa bisa menjawab pertanyaan Hanan dengan undangan.

Risa belum pernah sekalipun kontak langsung dengan Adit. Tapi ia yakin bahwa Adit adalah jodoh dari Tuhan untuknya. Menurutnya, cinta bisa dibangun dan dipupuk dengan kedekatan dan kehadiran. Risa berjanji akan mengabdikan diri untuk mencintai siapapun yang jadi suaminya. Bukankah pacaran setelah pernikahan adalah pacaran yang sebenarnya?

Pak Rido segera menghubungi pak Handoyo. Kebetulan akhir pekan itu, Adit sedang jadwal pulang ke rumah. Jika Adit setuju, akhir pekan akan dilangsungkan acara lamaran.

Akhir pekan pun tiba, keluarga pak Handoyo dijadwalkan datang ke rumah pak Rido pukul 10 siang. Tak ada tukar cincin, hanya ada obrolan seputar pemilihan tanggal dan persiapan pernikahan.

Selama acara berlangsung, Risa tak banyak bicara. Ia sibuk mengamati Adit yang kelak akan menjadi suaminya. Adit diberkahi paras yang tampan, dengan badan tegap. Hanya satu kekurangan, Adit agak cadel pada huruf r. Risa tak mempermasalahkan itu sama sekali. Justru baginya itu adalah bukti cinta dari Sang Pencipta.

_bersambung_

2 Komentar »

Day 15: Memberi Pilihan

Kami baru sampai di rumah pukul 13.00 WIB. Berangkat dari Solo padahal pukul 20.00 malam hari sebelumnya. Kantuk kakanda tak tertahankan, maka kami memutuskan untuk menikmati perjalanan saja, tidak terburu-buru.

Perjalanan panjang itu membuat saya sebagai orang tua saja merasa lelah, apalagi si mas. Saya sudah minta izin pada ibu guru si mas untuk tidak masuk sekolah hari ini. Supaya si mas bisa istirahat. Sudah saya sampaikan pada si mas tadi pagi, “Di rumah aja dulu hari ini, Mas. Istirahat. Besok baru masuk sekolah lagi.”

Tapi si mas menolak, “Aku maunya masuk hari ini.”

Huhuhu,,, kalau hari ini masuk, si mas ada ekstra kelas bola, maka lelahnya akan berlipat-lipat. Saya hafal betul, si mas bisa uring-uringan kalau capek. 

Akhirnya saya pun mengalah, “Oke mas boleh masuk sekolah. Tapi nggak usah ikut bola dulu hari ini ya!?”

Si mas tampak berpikir, “Jadi aku kapan bolanya?“

“Ya nanti, pekan depan lagi. Ya?” jawab saya sambil memastikan

Si mas masih diam. Saya coba tanya sekali lagi, “Hari ini mau di rumah aja atau masuk sekolah tapi nggak ikut bola?“

Lalu si mas menjawab, “Yaudah masuk sekolah nggak ikut bola.”

Pernyataan itu diikuti dengan si mas yang melepas baju lalu ambil handuk dan masuk kamar mandi. 

“Heu,,, maafkan Ummi ya, Mas.” kata saya dalam hati

Saya berencana mengatakan alasannya nanti siang. Kenapa si mas tidak ikut bola dulu hari ini. Tadi pagi saya hanya meminta si mas untuk istirahat. Semoga si mas bisa berdamai dengan alasan yang akan saya sampaikan. 

Tinggalkan komentar »

Day 14: Mengatakan Apa yang Saya Inginkan 

Si mas masih belajar untuk tertib jika sholat di masjid. Kalau pas ingat yaa bisa ikut sampai selesai. Kalau pas tidak ingat, misal ada yang ngajak lari-lari yaa ikutan juga dia. Hehe…

Saya ingat, beberapa hari setelah hari idul fitri tahun ini, si mas takbiran saat berlangsungnya sholat jamaah. Takbir ngelilingin masjid berulang kali. Bisa dibayangkan seluruh jamaah di mushola kampung mbah uyutnya, seusai salam kala itu? Ya! Ekspresi terbanyak yang saya terima adalah “ini anak siapa” atau “berisik amat” atau “anak kok bandel banget”.

O-ow… Mohon maaf, namanya anak-anak. Ada masanya dia bereksplorasi. Mungkin si mas mendengar ada gaungan suara ketika ia meneriakkan takbir. Saya memang membiarkan si mas kala itu, toh si mas hanya mengucap takbir bukan nyanyi lagu-lagu alay.

Nah, semalam kami sedang menepi ke rumah neni, ibu dari kakanda. Kebetulan melewati waktu sholat maghrib dan isya. Saat sholat maghrib si mas tidak dibriefing apapun. Benar saja. Saat ada teman sebaya yang mengajak si mas lari-larian, awalnya si mas masih cool, lama-lama tergoda juga dia. Jadilah si mas lari-larian.

Waktu sholat isya pun tiba. Si mas juga kami ajak ke masjid. Sebelumnya saya briefing, saya sampaikan apa yang saya mau. “Mas, nanti di masjid sholat sampai selesai ya. Di sebelah abi.” itu saja pesannya dan saya lakukan berulang-ulang.

Padahal bisa saja dan lebih mudah bagi saya mengatakan, “Jangan lari-larian ya”. Tapi saya menahan diri dari mengatakan itu. Semakin saya bilang “jangan lari-lari”, maka di otak si mas akan menangkap kata ‘lari-lari’. We’ll see..

Shalat jamaah berlangsung, si mas benar mengikuti instruksi ikut sholat sampai selesai di sebelah kakanda. Selesai sholat, si mas laporan ke saya, “Ummi tadi aku sholat sampai selesai.”

Lalu saya berikan pujian, “Ohiya Mas hebat sudah sholat sampai selesai di sebelah abi. Terima kasih ya, Mas”. Si mas tampak merona bahagia.

Saya ingat benar, saat fasilitator di kelas saya mengatakan “Jangan membayangkan makan bakso dengan kuah panas ya”. Ajaibnya yang ada di kepala saya malah mangkok yang berisi bulatan-bulatan daging itu, dengan kuah segar panas nan menggoda. Uhlala… 

Begitu lah kira-kira kerja otak kita. Jadi semakin kita bilang jangan begini begitu, tapi yang terrekam diotak anak hanya begini begitunya. Maka mengatakan apa yang kita inginkan pada anak jauh lebih disarankan daripada mengatakan apa yang tidak kita inginkan. Supaya otak anak bisa menangkap pesan dengan tepat. 

Tinggalkan komentar »

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 6

Soto Trisakti menjadi favorit keluarga pak Rido. Soto Solo seolah tiada tandingannya. Setiap berkunjung ke suatu kota, mereka mencicip kuliner soto. Ada soto Sokaraja, Lamongan, Banjar, dan lainnya. Namun belum ada yang bisa mengalahkan kelezatan rasa soto Trisakti bagi keluarga pak Rido.

“Risa kamu yakin mau dikenalin sama anaknya temen Papa?“ tanya pak Rido selesai makan

“Iya, Pa.” jawab Risa sekenanya

“Beneran ini. Barusan pak Handoyo telpon Papa. Katanya kalau kamu serius, yaa udah ketemu aja langsung.”

“Hah? Sekarang banget, Pa?!” Risa ngeri mendengar kata serius

“Terserah Risa sih. Kapan siapnya.” pak Rido menenangkan

“Ini cuman mau ketemu aja kan ya? Bukan nikah langsung gitu? Risa ngeri ah. Belum juga kenal. Udah serius-serius aja Papa ini”, jawab Risa sambil bergidik

Di benak Risa mulai berkelebatan bayang-bayang Ardi Tian tanpa bisa ia tolak. Ia sendiri tak tau harus berbuat apa. Seketika itu, ia hanya butuh didengar oleh Nurul. Risa rindu mencurahkan isi hatinya pada Nurul.

“Besok mereka silaturahim ke rumah kita.” kata pak Rido kemudian.

Pak Handoyo adalah sahabat baik pak Rido di kantor. Keduanya saling melengkapi dalam banyak hal. Wajar adanya jika pak Handoyo menginginkan bwsanan dengan pak Rido.

Hari Ahad, jarum jam di ruang tengah menunjukkan pukul 10 lebih 12 menit. Bu Riani menyiapkan makanan di dapur sementara pak Rido membereskan ruang tamu dan Ringga asik memainkan smartphone. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya Risa yang merasa cemas.

Risa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika semua pihak menyetujui perkenalan hari itu. Risa membatin, “Hanya perkenalan kenapa semua keluarga ikut?”

Risa pun menyempatkan diri menghubungi Nurul.

NURUL IZZATI DAKU KANGEN DIRIMU. NANTI MALEM AKU TELPON YA

Itu bunyi pesan singkat dari Risa dengan semua hurufnya menggunakan huruf besar. Tidak lama smartphone Risa berdenting.

Oii Risa Swastika. Kibor hapemu rusak? Kenapa itu kepslok semua!? Aku tunggu penjelasan darimu nanti malem.

Risa membaca balasan dari Nurul sambil tersenyum. Sedetik kemudian terdengar suara orang mengucap salam. Perasaan was-was, cemas, kembali menghantui Risa, “Ini semacam mau acara lamaran dan ketemu dua keluarga.”

Pertemuan itu menghasilkan satu hal. Keluarga sahabat pak Rido ingin Risa berkenalan serius dengan Adit, si anak lelaki satu-satunya.

Adit adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakak perempuannya telah berkeluarga, sehingga wajar adanya jika ia diharapkan segera menyusul kakak-kakaknya.

Saat ini Adit bekerja di perusahaan swasta di Sulawesi. Itulah sebabnya pertemuan perkenalan Risa dan Adit dibuat sangat kilat, mengingat kesibukan Adit yang hanya bisa pulang dalam dua bulan sekali.

Risa merasa aman, setidaknya untuk dua bulan kedepan. Ia tidak akan bertemu dengan anak pak Handoyo itu. Adit bukan tak tampan. Hanya bayangan Ardi Tian seolah masih sangat lekat pada kesehariannya.

“Gimana, Risa? Kamu suka sama Adit, Kan?” tanya pak Rido memastikan

“Suka..” jawab Risa sambil mengunyah sisa sajian para tamu

Pekan depannya Risa berjanji sekuat tenaga untuk menyebar lamaran pekerjaan. Ia sudah menyiapkan portofolio terbaiknya untuk disebar ke beberapa tempat tujuannya. Risa tidak ingin membebani pikiran soal perkenalan aneh itu.

Malam hari, Risa menghubungi Nurul. Mereka bertukar kabar. Lalu Risa menceritakan semua apa yang dialaminya dari A sampai Z. Tak ada yang tercecer. Nurul tidak banyak memberi masukan. Hanya bisa memberi wejangan, “Selagi kamu bisa, turuti apa yang jadi keinginan orang tuamu, Ris.”

Risa tak mau ambil pusing. Ia bertekad ingin segera dapat kerja, mau menabung, baru kemudian memikirkan nikah.

Tak berselang lama dari penantiannya, sebuah rumah sakit baru di kotanya, memanggilnya sebagai staf di apotek. Risa bertugas melayani penebusan resep. Kesibukannya membuat ia bisa melupakan soal Adit maupun Ardi Tian.

Hingga pada suatu malam, Risa sedang menikmati makan malamnya ketika pak Rido mendesaknya segera menikah.

“Nduk, kamu kan sudah dapat kerja. Perempuan itu tempat terbaiknya tetap di rumah. Kamu gimana sama Adit?” tiba-tiba pak Rido mengangkat topik itu lagi

“Nggak gimana-gimana, Pa. Dia nggak pernah hubungi Risa kok.” sesaat Risa merasa tenang

“Masa sih? Tapi kata Pak Handoyo, Adit selalu membahas kamu. Dia merasa cocok sama kamu. Kalo kamu cocok, mereka siap akan segera melamar.” kata pak Rido

Risa tersedak sambil bergumam, “Risa nggak salah dengar, Pa? Adit nggak pernah hubungi Risa, masa cocok. Darimana judulnya.”

“Tapi kamu sendiri gimana, Nduk? Insyaallah anaknya baik, sholih. Mama pengen liat kamu didandani pake gaun nikah. ” kata bu Riani

Risa tampak diam sejenak. Ia kembali memikirkan kalimat sahabatnya, Nurul, untuk menuruti apa yang jadi mau kedua orang tuanya.

“Risa ngikut kata Mama Papa aja. Insyaallah Risa siap.” kata Risa menahan sesuatu. Risa mencoba tenang. Ia merasa belum bisa membuat kedua orang tuanya bahagia, sehingga ia bertekad tidak ingin membuat kecewa. 

Suara hati Risa berkata, “Nggak dapet Ardi Tian dapetnya Aditya. Nama yang mirip. Sungguh kebetulan yang mencengangkan”.

_bersambung_

Tinggalkan komentar »

Day 13: (Merasa Menjadi) Orang Tua Dapat Diandalkan

Si mas sedang belajar berani. Kemarin di rumah uti, kebetulan sedang sepi. Hanya ada kami bertiga. Saya sedang menjemur pakaian di atas. Lalu si mas teriak dari bawah, “Ummi, aku mau pipis.”

Saya katakan, “Ya udah, dilepas celananya. Trus berdoa masuk kamar mandi. Jangan lupa disiram yang banyak.”

Saya bisa instruksikan panjang, karena di rumah biasa begitu. Tidak lama si mas berteriak lagi, “Ummiii, tapi aku takut. Kamar mandinya gelap.”

Hihihi,, kalau di rumah si mas bisa menyalakan dan mematikan sendiri lampu kamar mandi. Saklar lampu di rumah uti agak tinggi. Si mas belum bisa menjangkaunya.

Saya pun segera turun, “Oh iya, cetekan lampunya tinggi ya. Jadi apa yang bisa Ummi bantu?”

“Ummi bisa nyalain lampunya. Aku minta tolong Ummi yang nyalain lampu.”

Yash! Si mas bisa minta tolong. Saya mencoba menjadi orang tua yang bisa diandalkan. Meski dalam kasus ini baru sekedar membantu si mas menyalakan lampu. Semoga dikemudian hari, si mas mau selalu membagi cerita dan menjadikan kami, sebagai orang tuanya, adalah tempat rujukan pertama. 

Tinggalkan komentar »

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 5

Sesuai janjinya pada Nurul, selama di rumah, Risa ingin rehat sejenak sambil menikmati semua jajanan khas Solo.

“Pa, sore nanti ada agenda nggak?“ tanya Risa

“Enggak sih” jawab pak Rido

“Papa pulang jam berapa?“

“Sekitar jam tiga sore insyaallah udah di rumah. Emang kamu mau ngajak papa kemana?“

“Ehehe,,, yang ada Risa minta diajak Papa kemana-mana lah.”

“Yaudah Risa mau kemana?“ tanya pak Rido santai

“Mmm… Pengen sop buntut Bu Ugi, Pa” jawab Risa

“Yaudah ntar sore ya.” Pak Rido memberi janji

Rumah makan sop buntut Bu Ugi ini terkenal di Karanganyar. Letaknya berdekatan dengan lokasi, wisata Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu. Hanya butuh waktu 45 sampai 60 menit menuju ke sana bila ditempuh dengan kendaraan pribadi. Tidak jauh dari kota Karanganyar. Hanya jalanan berkelok dan menanjak, karena letaknya di perbukitan Gunung Lawu. Berbatasan langsung dengan kota Magetan, Jawa Timur.

“Gimana? Berangkat sekarang kita?“ ajak pak Rido sepulang kantor

“Hayuk…” jawab Risa dan Ringga, adik Risa, hampir bersamaan

Setelah sampai di tempat yang dituju, Risa memesan sop buntut yang memang primadonanya. Rasanya juara. Kuahnya bening, namun tetap kuat rasa rempahnya. Daging yang menempel pada tulang empuk, lembut, dan mudah dipotong bahkan dengan sendok. Kuah disajikan panas-panas, namun sekejap saja sudah menjadi dingin. Hawa dingin khas pegunungan menjadikan sop buntut Bu Ugi ini terasa lebih istimewa.

Kenampakan Sop Buntut Bu Ugi


Baru saja Risa memakan suapan terakhirnya, pak Rido bertanya, “Habis ini mau makan apa lagi?“

“Sepertinya cukup buat hari ini, Pa. Besok yang lain lagi” jawab Risa

“Besok kan hari sabtu, Papa libur. Mau kemana kita?“

“Mmm,,, Soto Trisakti boleh juga, Pa.” Ringga menyerobot

“Selat galantin solo buatan mama wenak juga lho, Pa!” bu Riani memuji buatannya sendiri

“Nahiya, pagi selat galantin, siang soto Trisakti. Udah pas dah itu.” kata Risa dengan cepat, seolah tak ingin ayahnya berubah pikiran

Keesokan pagi, seperti biasa bu Riani sudah sibuk menyiapkan makanan untuk keluarga. Obrolan di dapur pun berlanjut.

“Jadi kapan, Nduk kamu mau nikah?“ kata bu Riani sambil menghaluskan bumbu

“Heu,, Mama nggak asik. Belum seminggu nih Risa di rumah. Mama udah nyuruh nikah aja.” jawab Risa menekuk muka

“Perempuan itu, mau setinggi apa sekolahnya, setinggi apa gajinya, kalau suami nggak ijinin kerja, mau bilang apa? Ridho suami itu surganya istri, insyaallah.” kata bu Riani memberi wejangan

Risa tampak memikirkan sesuatu.

“Udah ngupas bawangnya, cukup. Habis ini ngrebus wortel ya. Mama mau matengin kuahnya. Trus sarapan deh. Mama udah laper” kata bu Riani sumringah

Selat galantin buatan bu Riani memang mantab. Tidak ada tandingannya. Selat sebenarnya berasal dari kata salad. Salad versi barat berisi sayuran mentah dengan dressing olive oil atau mayonnaise. Solo punya makanan yang mirip salad. Berisi sayuran rebus, galantin atau olahan daging, dilengkapi dengan kuah light dengan rasa cenderung manis.

Selat khas Solo

“Selat Mama ini beneran wenak. Juara deh pokoknya.” kata Risa memuji masakan bu Riani

“Iya, wenak, Ma. Sering-sering lah masak enak begini.” kata Ringga

“Hmmm,,, maunya! Makan itu esensinya apa sih? Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?” bu Riani menyela anak-anaknya

Sesi makan bagi keluarga pak Rido, memang selalu menjadi momen yang ditunggu. Banyak hal bisa diobrolkan selama waktu makan. Forum keluarga yang santai nan hangat selalu terbangun dari meja makan.

Jika salah satu dari anggota keluarga punya masalah, biasanya anggota yang lain akan bersama-sama mencarikan solusi terbaik. 

“Nanti siang, jadi kita kan ke soto Trisakti?” tanya pak Rido selesai sarapan

“Jadi dong, Pa.” jawab Risa dan Ringga yang lagi-lagi hampir serempak. 

Siang hari, keluarga pak Rido menuju rumah makan yang dituju. Di dalam mobil, pak Rido membuka obrolan, “Ris, kamu mau kerja dulu atau nikah dulu?”

Risa hanya bisa diam. Ia masih ingin menikmati kebebasan. Pertanyaan pak Rido dijawab Risa dengan mantab, “Kerja, Pa. Seminggu ini Risa pengen rehat, habis ini janji deh mau ngirim-ngirim lamaran.”

“Ini temen Papa ada yang mau ngenalin anaknya ke kamu. Dia tau kamu udah lulus. Anaknya sholih, cuma selisih tiga tahun sama kamu.” kata pak Rido

“Papa mau jodohin aku?” tanya Risa terbelalak. Bayangan Ardi seolah kembali mencuat ke permukaan hatinya

“Yaa,, kalau kamu setuju. Papa nggak maksa. Kenalan aja dulu. Risa keberatan nggak?“ kata pak Rido sambil terus mengatur laju mobil

“Enggak sih, Pa. Kalo kenal-kenal aja yaa nggak masalah. Nikah langsung pun oke aja. Yang penting papa papa ridho.” kata Risa

“Kalau Papa yaa jelas Ridho . Kan Pak Rido!” jawab pak Rido bercanda

Tak ayal, seisi mobil pun tertawa. Hanya Risa yang terus memikirkan kembali kata-kata apa yang barusan ia ucapkan. Risa tidak menyesal melontarkan kalimat itu, tetapi ada rasa mengganjal yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Ia terlalu takut membicarakan Ardi Tian. 

Tinggalkan komentar »

Day 12: Mencoba untuk Bisa

Siang tadi kami memutuskan duduk santai di kafe. Sekedar menepi dari keramaian jalanan. Saya dan kakanda ingin menyeruput kopi di warung kekinian, yang sempat wira-wiri di timeline instagram.

Setelah sampai di tempat yang dituju, kakanda menawarkan dua anak, si mas dan adik, bermain uno stacko bersama. Sebelumnya si mas dan adik sudah diberi pengertian untuk saling berbagi.

Saat bermain, alhamdulillah dua anak bisa bermain bersama, sementara saya dan kakanda ngobrol banyak hal. Kami memerhatikan kelakuan dua anak.

Tiba-tiba saat si mas sedang asyik menata balok-balok uno stackonya, si adik sibuk merubuhkan apa yang disusun masnya. Sudah dialihkan perhatian adik, tapi tak berhasil. Akhirnya yang sudah disusun mas, dengan susah payah, hancur.

“Ummi,, adik hancurin punyaku”, si mas mengadu pada saya

“Yaudah dibuat lagi.” kata saya menenangkan

“Aku nggak bisa. Tadi aku buatnya udah susah-susah, malah dihancurin adik. Adik mah gitu”, si mas masih mengadu

“Oh, mas pasti bisa bikin lagi. Tadi kan udah berhasil. Ayo dibikin lagi.” kata saya memberi semangat

“Nggak bisa, Mi.” jawab si mas

“Bisa. Pasti bisa. Ummi bantu awalnya, mau?” saya mencoba menawarkan bantuan

Si mas pun setuju. Saya membantu menyusun dasar uno stackonya, si mas yang melanjutkan.

Jadi, menurut arahan dari materi komunikasi produktif yang saya dapat dua pekan lalu, jika anak dibiasakan dengan kata bisa, otak anak akan membukakan jalan untuk bisa. Kemudian mengumpulkan faktor-faktor yang menjadikan bisa, sehingga pada akhirnya yaa akan bisa. Begitu pula sebaliknya. Jika anak mengatakan tidak bisa, maka yaa otak akan menutup jalan untuk bisa. Faktor yang terkumpul oleh otak adalah penyebab tidak bisa. Pada akhirnya anak akan benar-benar tidak bisa. Tugas orang tualah membuat anak untuk terus berpikir bisa. 

Tinggalkan komentar »

Jodohku, Maunya Ku Dirimu – 4

Seminggu berlalu, urusan kampus sudah selesai. Bekal penghidupan, ijazah dan legalisiran, sudah di tangan. Risa memutuskan kembali ke Solo. Ia merasa tak sanggup hidup di Bandung, tempatnya berkuliah.

Tinggal di kota besar membuatnya belajar banyak hal, sehingga ia merasa belum siap menjalani beban hidup ala kota besar. Risa ingin kembali ke tempat kelahirannya untuk sementara.

Sejak lepas maghrib, Risa dan Nurul memasakkan mie instan untuk semua penghuni kost. Hanya sebagai bentuk rasa syukur, sekaligus waktu yang pas bagi mereka berdua berpamitan, undur diri dari tetua kost. Yaa,, sebut saja pesta mie instan

Banyak hal yang Risa pesankan kepada adik-adik angkatannya, “Belajar dan berusaha yang baik, mohon doa kedua orang tua selalu dan buatlah cerita juga pengalaman sebanyak-banyaknya pada masa ini. Masa kuliah, masa yang indah lho. Iya kan mbak Nurul.”

“Iya banget. Dinikmatin aja, tapi jangan lupa tetep berusaha. Soalnya kan banyak kejadian tu yang saking menikmatinya dunia kampus, kuliahnya terbengkalai. Tersihir gitu sama kenikmatan yang ditawarkan. Duhh,, jangan deh, jangaaannn. Jangan ada yang begitu ya dekadek. Kudu harus bin wajib lulus tepat waktu”, Nurul menambahkan

Selesai acara pesta mie instan, perpisahan ala ala anak kost itu, adik-adik menonton film bersama. Risa dan Nurul izin undur diri, ingin menghabiskan malam bersama.

“Ris, ngerasa nggak sih. Kita besok udah harus pisah.” kata Nurul sambil rebahan di kamar Risa

“Iya euy, Rul. Empat taun kita sama-sama. Udah tau luar dalem. Jangan putus komunikasi yah! Pleaseee… Aku nggak bisa hidup tanpamu.” kata Risa berlebihan

“Bohong banget, Kamu! Bukannya hidupmu udah full sama Kang Ardi?” tanya Nurul dengan nada menggoda

“Hush! Sok tau!” Risa memberi wajah tak sukanya. Ia sedang berusaha keras melupakan bayang Ardi Tian dari hari-harinya. Ia ingin hidup bebas seperti dulu lagi, tanpa merasa terbelenggu oleh perasaannya sendiri.

“Yakin? Ha? Yakin?!” tanya Nurul memastika

Hanya senyum kecut yang Risa tunjukkan. Malam itu menjadi malam terakhir kebersamaan Risa dan Nurul. Mereka berujar tentang banyak kenangan.

“Oiya, Ris. Kamu habis ini rencananya gimana?” tanya Nurul

“Ish,, kepo kamu ya!” Risa bercanda, Nurul melotot meminta jawaban

“Habis ini, yang jelas aku mau males-malesan dulu di rumah sebulan. Pengen kulineran makanan kekinian yang lagi hits di sana. Lagi berseliweran di timeline ig banget eh”, jawab Risa antusias

“Bu, bu. Sederhana amat sih pengennya! Daku doong. Habis ini mau balik ke Lampung, trus langsung mau nyebar cv ke perusahaan yang udah daku incer.” jawab Nurul tak kalah semangat

“Luar biasa sahabatku ini. Sungguh visioner.” jawab Risa memberi dukungan sambil bertepuk tangan

“Ohiya lah! Harus. Orang hidup itu musti punya visi misi yang jelas. Biar hidup lebih terarah. Nggak asal numpang lewat aja. Jadi memperjelas bukti penciptaan kita ke dunia gitu loh, Ris.”

“Ebuset, berat beud bahasanya ya, Bu!“ kata Risa

Malam itu seperti menjadi malam yang berat bagi Risa dan Nurul. Dini hari Risa harus berangkat dari Bandung ke Jakarta,untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Solo.

Risa sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan selama sebulan ke depan. Ia berencana membantu ibunya di dapur, menyiapkan makanan untuk keluarga, membawakan bekal untuk ayahnya serta adik laki-lakinya. Hitung-hitung sebagai masa training tak berbayar dari ahli, sebelum ia musti benar-benar menjadi istri dan ibu.

Perjalanan panjang nan melelahkan baru akan dimulai justru setelah lulus kuliah. Ia pun punya keinginan untuk bekerja di apotek sebuah rumah sakit. Menjadi pembaca resep dan peracik obat adalah salah satu mimpinya selain menjadi istri dan ibu sholihat.

Sesampai di Bandar Udara Adi Soemarmo Solo, Risa dijemput oleh keluarganya. Ayah, ibu, dan adik Risa bahagia akhirnya ia bisa pulang. Jarak Bandung Solo sebenarnya tidak jauh. Hanya kendala waktu membuat Risa menjadi salah satu mahasiswi yang jarang pulang.

“Pa,, Ma,, makasih yaa udah jadi panutan bagi Risa. Udah setulus hati menyayangi dan membesarkan Risa.” Risa mengatakannya saat jam makan malam yaa

“Iya, Risa. Udah-udah kita makan dulu.” kata pak Ridho, ayah Risa

Selesai makan, Bu Riani, ibu Risa membereskan meja makan dan dapur. Risa pun turut membantu.

“Habis ini rencanamu apa, Nduk?” tanya bu Riani

“Belum ada rencana, Ma. Hehe..” jawab Risa sekenanya

“Kamu nggak pengen nikah?“

“Mama!! Baru juga lulus, udah nanya nikah.”

“Soalnya kalo ditanya ‘nggak pengen kerja’ pasti kamu jawab pengen. Mama udah tau.”

“Heu, Mama emang paling tau. Sementara Risa mau break dulu seminggu ini, Ma. Sambil mengumpulkan tenaga. Insyaallah habis ini mau ngelamar ke apotek-apotek gitu ma.”

“Itu nggak harus lulusan apoteker kah?” tanya bu Riani mengejutkan Risa

“Kalo cuma jadi staf, sepertinya enggak, Ma. Mama pengen aku ambil apoteker?”

“Nikah aja cepet, mama nggak sabar, pengen cepet momong cucu.”

Kalimat bu Riani membuat Risa kembali memunculkan bayangan Ardi Tian sesaat.

_bersambung _

2 Komentar »

Day 11: Mencoba Berempati

Sehari-hari si mas termasuk anak yang cenderung mudah mengikuti aturan. Jika saatnya makan, yaa si mas akan makan dengan tertib. Jika waktunya mandi, yaa si mas akan mandi dengan sukarela. Tapi ini si mas bersikap sedikit berbeda. Seperti kemarin sore si mas mencoba merebut mainan adik.

Saya sampaikan, “Mas, itu memang mainan adik. Adik nggak mau berbagi yaa nggak boleh maksa.”

Si mas terus merebut apa yang dipegang adik. Sebelum adiknya nangis saya mencoba memberi pilihan pada si mas. “Mas tetap mau mainan itu nunggu adiknya selesai bermain, atau mau mainan ini sekarang?” kata saya sambil memegang mainan yang lain. Sejujurnya dalam hati sambil komat kamit semoga berhasil.

Nyatanya si mas tidak tertarik. Tetap berebut dengan si adik. Saya memutar otak. Apa yang harus saya lakukan? Sementara sebagai ibu dituntut harus selalu menjaga kewarasan jiwa raga demi anak-anak. 

Akhirnya saya mendekati si mas, mencondongkan tubuh padanya, dan level kontak mata sejajar. Mencoba berempati, “Mas pengen mainan adik tapi adiknya belum mau berbagi yaa?” 

Si mas menjawab sambil tersedu, “Iyaaa. Huhuhuhu….” 

Saya coba beri pengertian, “Mmm,, tapi mohon maaf. Itu memang mainan adik. Adiknya belum mau berbagi. Mas mengalah dulu ya.”

Akhirnya si mas pun luluh dalam pelukan saya. Kemudian minta izin bermain mainan yang lain. Fyuh… 

Menerapkan ilmu komunikasi produktif dalam suasana yang ‘sehat’ itu mudah. Tapi ternyata menerapkan ilmu komunikasi produktif saat ‘genting’ itu tidak terlalu susah. Hanya butuh sedikit usaha. Mungkin anak tidak paham apa yang kita katakan, tapi anak tidak pernah salah meng-copy. Gaya komunikasi anak-anak bisa jadi adalah cerminan gaya komunikasi sehari-hari di rumah bersama orang tuanya. Begitu hasil membaca saya. 

Tinggalkan komentar »