simple thing here…

mencoba berbagi tentang apa yang coba dilihat, dengar, rasakan…

Ibuku, Ibu Profesional 

Menuliskan judulnya saja, saya sudah baper tingkat kampung. Ya, ibu saya seorang ibu profesional. Mama, begitu saya menyebutnya.

Mama adalah seorang pegawai negeri. Sejak kecil saya terbiasa melihat mama sibuk. Beliau hampir selalu bangun paling pagi, menyiapkan semua keperluan kami. Memasak demi terjaganya perut kami selama ditinggalnya bekerja. Satu menu untuk sarapan dan makan siang. Makan malam beliau bisa memasak lagi, atau membeli makanan matang.

Saya terbiasa demikian sejak kecil, sehingga kebiasaan ini pula terbawa hingga saya membangun rumah tangga. Saya bangun pagi hari, lalu menyiapkan makanan untuk kakanda juga dua anak. Setidaknya sampai siang hari,  perut anggota keluarga yang lain, aman terkondisi. Malam hari, baru saya memasak menu lain yang lebih simpel atau bisa juga membeli dari luar. Saya anak perempuan, sehingga mama tentulah menjadi role model pertama saya.

Semustinya role model adalah ummul mukminin seperti bunda Khodijah atau Aisyah. Yaa,, itu sudah pasti. Namun saya tidak bisa melihat secara nyata. Semua kebaikan ummul mukminin tak bisa dinafikkan. Saya wajib menjadikan istri-istri Rosulullah adalah tauladan pertama dan paling utama dalam berrumah tangga. Disisi lain, contoh konkrit di depan mata saya, yaa mama. Tak ada salahnya mencontoh semua kebaikan yang pernah mama ajarkan pada saya.

Ritme yang biasa saya lihat, selepas mama menyiapkan segala keperluan domestik dipagi hari, beliau bersiap diri. Ranah publik menantinya. Beliau akan mandi, berganti dengan seragam, berdandan bersih, memasang wajah menyenangkan, memastikan semua kebutuhan sekolah saya tak ada yang tertinggal, lalu berangkat kerja. Sementara saya sekarang, jika sudah selesai mempersiapkan masakan untuk seisi rumah, saya pun bersiap diri. Bukan untuk bekerja diranah publik, tapi untuk mengantar si mas sekolah. Nah disinilah letak perbedaannya. Hehe..

Saya adalah seorang stay at home mom. Ya, saya a housewife, ibu rumah tangga. Apapun sebutannya, saya bangga dan bahagia menjadi diri saya yang sekarang. Lalu, apakah tidak melalui pertentangan? Tentu saja ada banyak suara-suara sumbang yang saya dengar, bahkan dari mama. Beliau menyayangkan keputusan saya. Selalu dan selalu kalimat berikut yang tersirat, “Wong sekolah dhuwur teko S2 kok mung dinggo dewe”.(baca: Sekolah tinggi sampai S2 kok hanya dipakai sendiri) 

Hingga detik ini, sepertinya jauh di lubuk hatinya, beliau belum bisa ikhlas saya hanya di rumah. Mungkin beliau berkiblat pada dirinya. Saya akui, meskipun beliau sibuk dengan karirnya, namun tak pernah sekalipun membuat kami sekeluarga terbengkalai. Beliau mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga tidak ada satu urusanpun yang tercecer. Salut luar biasa pada mama.

Saya pribadi merasa belum sanggup membagi waktu sebaik beliau, makanya untuk sementara saya memilih sibuk di ranah domestik. Kali ini waktunya saya yang harus meyakinkan beliau bahwa rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari. Saya ingin membuktikan padanya bahwa meskipun saya di rumah, namun tetap melakukan banyak hal bermanfaat. Secara perlahan semoga bisa menunjukkan ‘kemuliaan’ seperti keinginan beliau.

Jauh sebelum Bu Septi meluncurkan Institut Ibu Profesional, mama saya sudah membuktikan diri menjadi ibu profesional yang sebenarnya. Bahkan beliau menunjukkan pada kami, anak-anaknya, bahwa ibu adalah manajer keluarga yang andal. Mama adalah cerminan ibu cekatan, ibu produktif, dan ibu shaleha yang nyata, konkrit ada di kehidupan saya. Jujur, saya baper tingkat kabupaten menuliskan ini. Whatever, saya bangga terlahir dari rahimnya. Kelak, saya pun ingin melihat anak-anak bangga terlahir dari ibu macam saya. 

Iklan
17 Komentar »

Pindahan..

Silakan mampir ke http://www.widhyanua.com

 

Gambar diambil dari hipwee

Tinggalkan komentar »